Pages - Menu

07 September 2013

Memilih Setia...

Salam sobat blogger....

Pagi menjelang siang nih, saya mau cerita deh, tapi sebelumnya kita menyanyi dulu..

Ada banyak cara Tuhan menghadirkan cinta
Mungkin engkau adalah salah satunya
Namun engkau datang di saat yang tidak tepat
Cintaku tlah dimiliki

Inilah akhirnya harus ku akhiri
Sebelum cintamu semakin dalam
Maafkan diriku memilih setia
Walaupun kutahu cintamu lebih besar darinya

Yap itu adalah potongan lirik lagu yang dinyanyikan oleh Fatin dg judul tepatnya,  Aku Memilih Setia. 
Tapi saat ini saya tidak akan membahas tentang lagu itu dan siapa Fatin, saat ini saya hanya ingin bicara tentang kondisi dimana kita harus 'Memilih Setia'.

Mungkin sobat ataupun saya pribadi pernah ngalamin hal seperti itu, bukan, bukan saja tentang percintaan (aah saya bukan ABG lagi yg bahas cinta-cinta-an), tetapi lebih tentang suatu komitmen dalam banyak hal, misalnya pekerjaan.

Saat ini saya sedang mengalaminya...
Memilih meninggalkan dengan segala hiruk pikuk dan memilih sesuatu yang (mungkin) lebih baik. Kenapa mungkin? Karena saya tidak tahu. Mungkin kelihatan dimata saya baik tetapi belum tentu kan menurut Allah.

Pekerjaan yang selalu membuat saya galau, pekerjaan yg saya tidak inginkan, pekerjaan yang memaksa saya harus setia..
Tetapi juga sebuah pekerjaan yang bila dilakoni dengan ikhlas dan niat baik maka insyaa Allah akan menuai beribu pahala...
Dan selalu saja godaan itu datang, godaan yang mengajak saya berkhianat dan berselingkuh...
Ditambah dengan lingkungan pekerjaan yg tidak kondusif dan kurangnya apresiasi atasan, membuat hati ini mengidamkan yg lebih, keinginan untuk kabur pun semakin kuat.

Tapi, ketika hati ini sudah terpaut dg hal yang dikerjakan, ketika sudah menyayanginya, ingin membuatnya lebih baik, rasanya tidak tega untuk pergi. Meski mungkin saya tidak bisa memberikan yg terbaik.. tapi saya ingin mendampingi mereka, mendukung mereka layaknya kakak..

Yah, saat ini saya harus memilih setia...
Meski harus tetap berada pada kondisi tak nyaman. Tapi tak ada jaminan pula ketika saya meninggalkannya kondisi saya menjadi nyaman. Bukankah itu sama saja dengan melarikan diri?

Bukannya saya ingin jadi jagoan dengan ber-idealisme, dikala diri sudah remuk redam.
Tapi biarlah saya memilih setia, sebagai wujud terimakasihku....
Biarlah saya memilih setia, semoga bisa menjadi cahaya untuk mereka yg membutuhkan...
Meski kondisi tak berubah, semoga Allah membimbingku untuk memiliki pola pandang yg baru...

Bukankah Allah menyukai hamba-Nya yg pandai bersyukur? yang salah satunya dg berterimaksih pada bantuan org lain...

Ya Rabb, sungguh aku yakin kalau semua telah tertulis lauful mahfudz... semua ini adalah skenario takdir-Mu... Ya Rabb, hilangkan ketakutan dalam hatiku, mantapkanlah hati ini ketika memang yang dipilihnya adalah suatu kebaikan...


No comments: